Waspada Masalah Kesehatan Saat Traveling
Traveling dan Risiko Kesehatan yang Sering Terabaikan
Libur Natal dan Tahun Baru atau Nataru menjadi momen favorit untuk bepergian bersama keluarga maupun teman. Namun, di balik euforia liburan, perjalanan panjang dan perubahan rutinitas harian menyimpan berbagai risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian. Tidak sedikit wisatawan yang justru jatuh sakit saat atau setelah liburan.
Perubahan pola tidur, jam makan yang tidak teratur, hingga paparan lingkungan baru dapat memengaruhi kondisi fisik dan mental. Karena itu, penting bagi pelancong untuk memahami potensi masalah kesehatan yang mungkin muncul agar liburan tetap berjalan aman dan nyaman.
Kecemasan dan Kondisi Medis Sebelum Berangkat
Masalah kesehatan saat traveling sering kali sudah muncul bahkan sebelum perjalanan dimulai. Kecemasan menjadi salah satu kondisi yang umum dialami. Takut terbang, khawatir tertinggal jadwal, atau cemas menghadapi situasi yang tidak terduga dapat memicu stres berlebih.
Kecemasan ini tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga fisik. Gangguan tidur, jantung berdebar, hingga hiperventilasi bisa terjadi, dengan gejala seperti nyeri dada, sesak napas, kejang otot, dan kesemutan di sekitar mulut atau lengan. Bagi sebagian orang, bepergian bersama pendamping yang berpengalaman dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan.
Selain faktor mental, kondisi medis tertentu perlu perhatian khusus sebelum traveling. Penderita penyakit jantung, gangguan paru, diabetes, atau penyakit kronis lainnya disarankan berkonsultasi dengan dokter, terutama jika perjalanan melibatkan dataran tinggi atau aktivitas fisik berat. Perempuan hamil, khususnya yang mendekati waktu persalinan, juga perlu memastikan kondisi kesehatannya aman untuk bepergian.
Mabuk Perjalanan yang Mengganggu Aktivitas Liburan
Mabuk perjalanan menjadi keluhan yang paling sering dialami wisatawan. Kondisi ini dapat terjadi saat menggunakan mobil, kereta, pesawat, maupun kapal laut. Gejalanya meliputi mual, muntah, pusing, keringat dingin, dan rasa tidak nyaman yang dapat merusak suasana liburan.
Untuk mengurangi risiko mabuk perjalanan, pelancong disarankan tidak mengonsumsi makanan berat atau alkohol sebelum dan selama perjalanan. Memusatkan pandangan pada objek yang diam atau cakrawala, menjaga sirkulasi udara, serta memilih posisi duduk yang stabil juga dapat membantu. Obat anti-mabuk bisa digunakan, namun perlu diingat adanya potensi efek samping seperti kantuk.
Risiko Gumpalan Darah akibat Duduk Terlalu Lama
Perjalanan jarak jauh, terutama dengan pesawat atau kendaraan darat, membuat seseorang duduk dalam waktu lama. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah di pembuluh darah kaki atau panggul. Dalam situasi tertentu, gumpalan tersebut dapat berpindah ke paru-paru dan menyebabkan emboli paru, yang berpotensi mengancam jiwa.
Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain kram, pembengkakan, nyeri, atau perubahan warna pada betis dan kaki. Untuk menekan risiko ini, wisatawan disarankan sering mengubah posisi duduk, menggerakkan kaki secara berkala, mencukupi asupan cairan, serta berjalan dan melakukan peregangan setiap satu hingga dua jam selama perjalanan.
Ancaman Infeksi Selama Liburan
Risiko tertular penyakit menular juga meningkat selama traveling, terutama saat berinteraksi dengan banyak orang di bandara, stasiun, atau tempat wisata. Influenza dan diare pelancong menjadi dua penyakit yang paling sering dikhawatirkan wisatawan setelah liburan.
Meski penularan penyakit di pesawat atau kapal pesiar relatif jarang, kewaspadaan tetap diperlukan. Menjaga kebersihan tangan dengan rutin mencuci tangan atau menggunakan pembersih berbasis alkohol dapat menurunkan risiko penularan. Memastikan imunisasi dalam kondisi lengkap juga menjadi langkah penting sebelum bepergian.
Jet Lag dan Gangguan Tidur di Tempat Tujuan
Jet lag merupakan masalah kesehatan yang umum dialami wisatawan yang melintasi lebih dari tiga zona waktu dalam waktu singkat, terutama melalui perjalanan udara. Tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan jam biologis dengan waktu setempat, sehingga muncul gangguan tidur.
Gejala jet lag meliputi kelelahan, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, insomnia, dan perubahan suasana hati. Perjalanan ke arah barat biasanya membuat seseorang bangun lebih pagi, sedangkan perjalanan ke arah timur sering menyebabkan kesulitan tidur lebih awal. Paparan sinar matahari pagi, menjaga jadwal tidur, dan menghindari tidur siang terlalu lama dapat membantu tubuh beradaptasi lebih cepat.
Perencanaan sebagai Kunci Menjaga Kesehatan Traveling
Menjaga kesehatan selama libur Nataru sejatinya dimulai dari perencanaan yang matang. Wisatawan disarankan membawa obat-obatan pribadi, perlengkapan kesehatan dasar, serta salinan dokumen medis penting untuk berjaga-jaga jika terjadi kondisi darurat.
Perencanaan yang baik membantu meminimalkan risiko gangguan kesehatan selama perjalanan. Dengan kesiapan fisik dan mental yang optimal, liburan dapat dinikmati dengan lebih aman, nyaman, dan bebas dari masalah kesehatan yang tidak diinginkan.
Baca Juga : Jangan Anggap Remeh Gigi Tiba-tiba Goyang saat Dewasa
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : kabarsantai

