Tiga Kecamatan di Kudus Terdampak Longsor Parah
Longsor Terjang Kudus Sejak Jumat Malam
Bencana tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sejak Jumat malam. Intensitas hujan yang tinggi memicu pergerakan tanah di kawasan perbukitan, menyebabkan kerusakan bangunan warga hingga terputusnya akses jalan utama di beberapa titik.
Berdasarkan data BPBD Kudus, sedikitnya tiga kecamatan terdampak langsung, yakni Kecamatan Dawe, Kecamatan Gebog, dan Kecamatan Bae. Puluhan titik longsor tercatat menyebar di kawasan pemukiman, jalan desa, hingga jalur wisata.
Kecamatan Dawe Paling Terdampak
Kecamatan Dawe menjadi wilayah dengan dampak paling luas. Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kudus, Ahmad Munaji, menjelaskan bahwa beberapa desa di Dawe mengalami longsor dengan intensitas tinggi, antara lain Desa Japan, Desa Kuwukan, Desa Ternadi, Desa Colo, dan Desa Kajar.
Di Desa Japan saja, tercatat sebanyak 24 titik longsor dan retakan tanah. Longsoran tersebut berdampak langsung pada rumah warga serta bahu dan badan jalan. Beberapa titik sudah berhasil ditangani oleh petugas gabungan, namun sebagian lainnya masih dalam proses pembersihan dan pemantauan.
“Longsor dan retakan tanah terjadi di beberapa rumah warga serta badan jalan. Sejumlah titik sudah kami tangani, sisanya masih dalam penanganan bertahap,” ujar Ahmad Munaji.
Akses Jalan Utama Lumpuh
Longsor juga menutup akses Jalan Japan–Rejenu serta jalur perbatasan Kudus–Pati di KM 1. Ruas jalan tersebut tidak dapat dilalui kendaraan roda empat dan diperkirakan akan membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali normal, mengingat kondisi tanah yang masih labil.
Situasi ini memaksa warga dan pengguna jalan mencari jalur alternatif, sementara aktivitas distribusi dan mobilitas masyarakat terganggu. BPBD bersama instansi terkait terus melakukan asesmen untuk menentukan langkah penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan perbaikan darurat.
Kerusakan Rumah Warga di Desa Kuwukan
Sementara itu, di Desa Kuwukan tercatat 20 titik tanah longsor yang sebagian besar menutup akses jalan lingkungan. Selain infrastruktur jalan, longsor juga menyebabkan kerusakan pada enam rumah warga. Kerusakan meliputi teras rumah dan kamar mandi yang jebol akibat tertimpa material tanah.
Petugas BPBD bersama relawan telah melakukan pendataan kerusakan serta memberikan imbauan kepada warga agar meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi rumah yang berada di dekat tebing dan lereng curam.
Longsor di Desa Ternadi dan Ancaman Susulan
Di Desa Ternadi, tercatat empat titik tanah longsor yang mayoritas berada di RT 4 RW 2 serta RW 3. Longsoran tersebut berdampak pada dua rumah warga dan bahu jalan desa. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kondisi ini tetap dinilai berbahaya karena potensi longsor susulan masih tinggi.
BPBD Kudus menyatakan pemantauan akan terus dilakukan, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Jalur Wisata Sunan Muria Terdampak Serius
Dampak paling besar terjadi di Desa Colo, kawasan yang dikenal sebagai jalur wisata religi menuju makam Sunan Muria. Di wilayah ini tercatat sembilan titik longsor yang mengenai pemukiman warga dan akses wisata.
Salah satu kejadian paling parah adalah ambrolnya jembatan portal menuju kawasan wisata ziarah Sunan Muria. Jembatan tersebut ambrol sepanjang sekitar 50 meter dengan kedalaman mencapai 20 meter, menyebabkan dua mobil tercebur ke sungai di bawahnya. Beruntung tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam insiden tersebut.
Kerusakan ini berdampak besar pada aktivitas wisata dan ekonomi warga sekitar, mengingat jalur tersebut merupakan akses utama bagi peziarah dan wisatawan.
BPBD Imbau Warga Tetap Waspada
BPBD Kudus mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan longsor, agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta segera melapor jika menemukan retakan tanah baru, pergerakan lereng, atau tanda-tanda longsor lainnya.
Selain itu, warga juga diimbau menghindari aktivitas di sekitar lereng curam dan jalur yang terdampak longsor hingga dinyatakan aman oleh petugas.
Penanganan Berlanjut, Status Siaga Dipertimbangkan
Hingga saat ini, BPBD Kudus bersama pemerintah daerah, TNI-Polri, dan relawan terus melakukan pembersihan material longsor, pendataan kerusakan, serta pengamanan lokasi terdampak. Tidak menutup kemungkinan status siaga bencana akan diperpanjang atau ditingkatkan apabila kondisi cuaca ekstrem masih berlanjut.
Bencana longsor ini menjadi pengingat akan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di wilayah perbukitan Kudus, khususnya saat musim hujan. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan guna meminimalkan dampak bencana serupa di masa mendatang.
Baca Juga : Korsel Bantah Provokasi, Janji Selidiki Insiden Drone
Cek Juga Artikel Dari Platform : wikiberita

