Pubalgia pada Atlet: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan
Pubalgia merupakan salah satu cedera olahraga yang kerap luput dari perhatian, namun dampaknya bisa sangat mengganggu performa dan kualitas hidup penderitanya. Kondisi ini sering dialami atlet, terutama yang terlibat dalam olahraga dengan gerakan eksplosif seperti sprint, perubahan arah mendadak, dan rotasi tubuh. Meski kerap disebut sebagai sports hernia atau athletic pubalgia, kondisi ini sebenarnya berbeda dengan hernia pada umumnya karena tidak selalu disertai tonjolan organ.
Dalam beberapa tahun terakhir, pubalgia semakin sering dibahas karena dialami oleh banyak atlet profesional. Cedera ini ditakuti bukan karena sifatnya yang mengancam nyawa, melainkan karena sifatnya yang kronis, sulit didiagnosis, dan berpotensi kambuh jika tidak ditangani secara tepat. Pemahaman yang baik mengenai pubalgia menjadi kunci penting agar cedera ini dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin.
Apa Itu Pubalgia?
Pubalgia adalah kondisi nyeri kronis yang terjadi di area selangkangan dan perut bagian bawah, tepatnya di sekitar tulang pubis. Area ini merupakan titik pertemuan berbagai struktur penting, seperti otot perut bagian bawah (rectus abdominis), otot paha bagian dalam (adductor longus), tendon, serta ligamen panggul. Ketika struktur-struktur tersebut mengalami tekanan berlebihan atau ketidakseimbangan, nyeri dapat muncul dan berkembang secara bertahap.
Pubalgia dapat dialami oleh siapa saja, termasuk non-atlet. Namun, risikonya jauh lebih tinggi pada atlet sepak bola, rugby, hoki, atletik, dan cabang olahraga lain yang menuntut akselerasi cepat, tendangan kuat, serta rotasi tubuh berulang. Berbeda dengan anggapan keliru yang berkembang di masyarakat, pubalgia tidak disebabkan oleh aktivitas seksual berlebihan. Secara medis, kondisi ini murni berkaitan dengan faktor biomekanik dan beban fisik.
Gejala Pubalgia yang Perlu Diwaspadai
Salah satu tantangan terbesar pada pubalgia adalah gejalanya yang sering menyerupai cedera lain di area panggul dan paha. Akibatnya, banyak kasus pubalgia terlambat terdiagnosis. Gejala umumnya berkembang secara perlahan dan cenderung memburuk saat aktivitas fisik meningkat.
Keluhan yang sering dirasakan antara lain nyeri dalam pada selangkangan dan perut bawah, rasa tidak nyaman saat sprint, menendang bola, melakukan sit-up, atau gerakan memutar tubuh. Nyeri dapat menjalar ke paha bagian dalam, perineum, atau bahkan ke area skrotum pada pria. Pada fase awal, nyeri biasanya mereda saat istirahat, tetapi akan muncul kembali ketika atlet kembali berlatih atau bertanding.
Sebagian penderita juga menggambarkan sensasi tertarik atau seperti robekan kecil saat cedera pertama kali terjadi. Tanpa pemeriksaan penunjang seperti MRI atau USG dinamis, pubalgia kerap disalahartikan sebagai cedera otot ringan, padahal jika dibiarkan, kondisi ini dapat berubah menjadi keluhan kronis yang sulit ditangani.
Penyebab Utama Pubalgia
Secara medis, pubalgia umumnya disebabkan oleh kombinasi dua mekanisme utama yang saling berkaitan. Mekanisme pertama adalah cedera mikro berulang pada otot dan tendon. Otot perut bagian bawah dan otot paha dalam menarik tulang pubis ke arah yang berlawanan. Tarikan yang terus-menerus ini menciptakan kondisi seperti tarik-menarik (tug of war) yang dapat memicu robekan kecil berulang pada jaringan lunak.
Mekanisme kedua adalah melemahnya dinding posterior inguinal. Cedera otot yang berulang dapat menyebabkan lapisan penyangga di area selangkangan menjadi lemah. Meski tidak sampai menyebabkan organ menonjol keluar seperti pada hernia inguinalis, kondisi ini tetap dapat memicu nyeri yang signifikan, terutama saat aktivitas berat atau mengejan.
Selain itu, terdapat sejumlah faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya pubalgia, seperti gerakan eksplosif berulang tanpa pemulihan yang cukup, ketidakseimbangan kekuatan antara otot inti dan otot paha dalam, fleksibilitas pinggul yang buruk, serta beban latihan yang berlebihan.
Mengapa Pubalgia Sulit Disembuhkan?
Pubalgia melibatkan banyak struktur yang saling berhubungan di area panggul. Jika satu komponen terganggu, komponen lain akan ikut terpengaruh. Inilah yang membuat pubalgia sulit disembuhkan jika penanganannya tidak menyeluruh. Hanya mengobati nyeri tanpa memperbaiki ketidakseimbangan otot dan pola gerak sering kali menyebabkan kekambuhan.
Selain itu, atlet kerap memaksakan diri kembali berlatih sebelum pemulihan optimal, sehingga cedera mikro terus berulang dan memperpanjang proses penyembuhan.
Cara Mencegah Pubalgia Sejak Dini
Pencegahan pubalgia sangat penting, terutama bagi atlet dengan risiko tinggi. Program pencegahan sebaiknya difokuskan pada penguatan otot inti dan penstabil panggul agar distribusi beban lebih seimbang. Latihan fleksibilitas pinggul dan paha bagian dalam juga penting untuk menjaga rentang gerak yang optimal.
Manajemen beban latihan harus diperhatikan dengan serius. Tubuh memerlukan waktu pemulihan yang cukup untuk memperbaiki cedera mikro sebelum berkembang menjadi cedera serius. Koreksi biomekanik, seperti memperbaiki postur panggul dan pola gerak, juga berperan besar dalam mencegah pubalgia.
Jika muncul nyeri ringan di area selangkangan, sebaiknya jangan diabaikan. Pemeriksaan dini oleh dokter olahraga atau fisioterapis dapat mencegah kondisi berkembang menjadi kronis.
Penutup
Pubalgia bukan cedera ringan yang bisa disepelekan. Kondisi ini melibatkan otot, tendon, dan struktur panggul yang kompleks, sehingga membutuhkan pendekatan diagnosis dan penanganan yang tepat. Dengan pemahaman yang baik mengenai penyebab, gejala, dan faktor risikonya, pubalgia sebenarnya dapat dicegah sejak dini.
Bagi atlet maupun individu aktif, menjaga keseimbangan otot, mengatur beban latihan, serta segera mencari bantuan medis saat muncul nyeri selangkangan adalah langkah penting untuk menjaga performa dan kesehatan jangka panjang.
Baca Juga : 8 Manfaat Buah Kersen yang Jarang Diketahui untuk Kesehatan
Cek Juga Artikel Dari Platform : festajunina

